Bab
5&6
STRUKTUR
PRODUKSI, DISTRIBUSI PENDAPATAN DAN KEMISKINAN
DISTRIBUSI PENDAPATAN
Ketidakmerataan Distribusi
Pendapatan
Penghapusan kemiskinan dan berkembangnya ketidakmerataan pembagian pendapatan
merupakan inti permasalahan pembangunan. Walaupun titik perhatian utama pada
ketidakmerataan distribusi pendapatan dan harta kekayaan, hal tersebut hanyalah
merupakan sebagian kecil dari masalah ketidakmerataan yang lebih luas di
negara-negara sedang berkembang.
Melalui
pemahaman yang mendalam terhadap masalah ketidakmerataan dan kemiskinan ini
memberikan dasar yang baik untuk menganalisis msalah pembangunan yang lebih
khusus seperti : pertumbuhan populasi; pengangguran; pembangunan
perdesaan; pendidikan; perdagangan internasional, dan sebagainya.
Secara umum yang menyebabkan
ketidakmerataan distribusi pendapatan di negara-negara sedang berkembang adalah
:
1. Pertambahan penduduk yang tinggi yang mengakibatkan
menurunnya
pendapatan per kapita.
2. Inflasi, dimana pendapatan uang bertambah tetapi tidak diikuti secara
proporsional
dengan pertambahan produksi barang-barang.
3. Ketidakmerataan pembangunan antar daerah.
4. Investasi ditanamkam pada proyek-proyek yang padat
modal, sehingga persentase
pendapatan dari dari harta tambahan besar
dibandingkan dengan persentase pendapatan
yang berasal dari kerja, sehingga
pengangguran bertambah.
5. Rendahnya mobilitas sosial.
Pelaksanaan kebijaksanaan industri subsitusi impor yang mengakibatkan
kenaikan harga-
harga barang hasil industri untuk melindungi usaha-usaha
golongan kapitalis.
6. Memburuknya
nilai tukar (terms of trade) bagi negara-negara sedang berkembang
dalam
perdagangan dengan negara-negara maju, sebagai akibat ketidak elatisitasan
permintaan negara-negara maju terhadap barang-barang ekspor negara sedang
berkembang.
7. Hancurnya industri-industri kerajinan rakyat seperti
industri rumah tangga.
DISTRIBUSI PENDAPATAN PERORANGAN
Ukuran distribusi pendapatan perorangan merupakan ukuran yang paling umumnya
digunakan oleh para ekonom. Cara yang sering digunakan untuk menganalisis
distribusi pendapatan perseorangan adalah dengan membuat Kurve Lorenz.
Dinamakan Kurve Lorenz adalah karena yang memperkenalkan kurve tersebut
adalah Conrad Lorenz seorang ahli statistika dari Amerika Serikat.
Ia menggambarkan hubungan antara kelompok-kelompok penduduk dan pangsa (share)
pendapatan mereka. Jumlah penerima pendapatan digambarkan pada sumbu
horizontal, tidak dalam angka mutlak tetapi dalam persentase kumulatif.
Misalnya titik 20 menunjukkan 20 persen penduduk termiskin (paling rendah
pendapatannya) dan pada titik 60 menunjukkan 60 persen penduduk terbawah
pendapatannya, dan pada ujung sumbu horizontal menunjukkan jumlah 100 persen
penduduk yang dihitung pendapatannya.
Sumbu vertikal menunjukkan pangsa pendapatan yang diterima oleh
masing-masing persentase jumlah penduduk. Jumlah ini juga kumulatif sampai 100
persen, dengan demikian kedua sumbu ini sama panjangnya dan akhirnya membentuk
bujur sangkar.
Sebuah garis diagonal kemudian digambarkan melalui titik pusat menuju sudut
atas dari bujur sangkar tersebut. Setaip titik pada garis diagonal tersebut
menunjukkan persentase pendapatan yang diterima sama persis dengan persentase
penerima pendapatan tersebut. Dengan kata lain, garis diagonal tersebut
menunjukkan distribusi pendapatan dalam keadaan “kemerataan sempurna”
(perfect equality). Oleh karena itu, garis disebut bisa disebut sebagai
garis kemerataan sempurna.
Semakin jauh kurva lorenz tersebut dari garis diagonal (ketidakmerataan
sempurna), semakin tinggi derajat ketidakmerataan yang ditunjukkan. Keadaan
yang paling ekstrim dari ketidakmerataan sempurna misalnya keadaan dimana
seluruh pendapatan hanya diterima oleh satu orang dan ini akan ditunjukkan oleh
berimpitnya kurva lorenz tersebut dengan sumbu horizontal bagian bawah dan
sumbu vertikal sebelah kanan.
Sehubungan itu, tidak ada suatu negarapun yang mengalami kemerataan
sempurna ataupun ketidakmerataan sempurna dalam distribusi pendapatan, maka
kurve lorenz untuk setiap negara akan terletak di sebelah kanan kurve diagonal
tersebut. Semakin tinggi derajat ketidakmerataan, kurve lorenz itu akan semakin
melengkung dan semakin mndekati sumbu horizontal sebelah kanan.
Koefisien Gini
Suatu ukuran yang singkat mengenai derajat ketidakmerataan distribusi
pendapatan dalam suatu negara bisa diperoleh dengan menghitung luas daerah
antara garis diagonal (kemerataan sempurna) dengan kurve Lorenz dbandingkan
dengan luas total dari separuh bujur sangkar dimana terdapat kurve Lorenz
tersebut.
Distribusi Fungsional
Ukuran distribusi pendapatan lain, yang sering digunakan oleh para ekonom
adalah distribusi fungsional atau distribusi pangsa faktor produksi. Ukuran
distribusi ini berusaha untuk menjelaskan pangsa pendapatan nasional yang
diterima oleh masing-masing faktor produksi. Disamping memandang
individu-individu sebagai kesatuan yang terpisah, teori ukuran distribusi
pendapatan fungsional tersebut menyelidiki persentase yang diterima tenaga
kerja secara keseluruhan dibandingkan dengan persentase dari pendapatan
nasional yang terdiri dari : sewa, bunga, dan laba.
Gambar di bawah ini memberikan gambaran yang sederhana dari teori
distribusi fungsional tradisional. Misal dalam perekonomian hanya ada 2 faktor
produksi yaitu modal yang merupakan faktor produksi tetap dan tenaga
kerja merupakan satu-satunya faktor produksi variabel.
Berdasarkan asumsi pasar persaingan, permintaan akan tenaga kerja
ditentukan oleh Marginal Productnya (VMPL) sama dengan tingkat upah
riil. Tetapi, sesuai dengan prinsip marginal produk yang manurun, permintaan
akan tenaga kerja ini akan merupakan suatu fungsi yang menurun dari jumlah
tenaga kerja yang diperkejakan.
Kurve permintaan akan tenaga kerja yang berslope negatif tersebut
ditunjukkan oleh DL. Sedangkan kurve penawaran tenaga kerja adalah SL,
dan tingkat upah keseimbangan akan sama dengan tingkat keseimbangan penggunaan
tenaga kerja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar